📢 Berita
The New York Times: Ribuan personel Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS siaga, rencana operasi militer melawan Iran telah siap
Menurut laporan *The New York Times* pada 5 November, meskipun Trump sendiri telah memberi sinyal bahwa ia tidak berniat segera melanjutkan serangan udara terhadap Iran, tindakan militer semacam itu tetap merupakan kemungkinan nyata. Sejarah menunjukkan bahwa sejumlah presiden AS sebelumnya—ketika menghadapi kebuntuan politik dan terpaksa mundur ke “opsi cadangan”—sering mengandalkan operasi militer untuk menegaskan kembali otoritas mereka sebagai Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata, tanpa sedikit pun terkikis. Contohnya, setelah kekalahan bersejarah Partai Republik dalam Pemilu Paruh Waktu 2006, Presiden Bush mempercepat penyebaran pasukan militer AS di Irak. Beberapa mantan diplomat Departemen Luar Negeri AS yang lama bertugas di Timur Tengah, pejabat Pentagon, serta komandan militer aktif menyatakan bahwa Trump saat ini mungkin telah terjebak dalam jalan buntu strategis. Rabu waktu setempat, pejabat Pentagon dan komandan militer mengonfirmasi bahwa ribuan personel Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS—bersama kekuatan tempur yang ditempatkan di lebih dari sepuluh kapal perang, berbagai pangkalan militer di negara-negara Timur Tengah, serta fasilitas militer di wilayah daratan AS—telah berada dalam status siaga penuh, siap melaksanakan perintah Trump untuk kembali melancarkan operasi militer skala besar terhadap Iran. Sumber-sumber yang mengetahui perkembangan ini juga mengungkapkan bahwa angkatan bersenjata AS dan Israel telah bersama-sama menyusun rencana operasi detail: sebuah serangan gabungan berdurasi singkat namun intensitas tinggi, dengan sasaran utama infrastruktur energi Iran, fasilitas nuklirnya, serta gudang senjata rudal dan drone-nya.